Pada tahun 2019 lalu, perkembangan smartphone pada prediksi akan makin baik pada tahun 2020. Sayangnya prediksi ini tampaknya nir akan terwujud. Masalah Virus Corona telah dipastikan adalah penyebabnya. Bahasan mengenai Covid-19 yang merusak perkembangan smartphone telah sebagai bahasan hangat pada tect industri.
Hambatan ini tentu sangat disayangkan. pada tahun 2019 lalu, topic soal 5G dan smartphone lipat tentu menjadi topik yang seru. Desain kedua teknologi ini mungkin masih digodog pada saat itu dan diharapkan bisa terealisasi dengan baik pada tahun 2020 ini. Tapi berkat musibah penyakit global Virus Corona, perkembangan teknologi ini terhambat.
Dari informasi lapangan yang diambil lembaga analisa internasional TrendForce, memprediksi penurunan produksi smartphone sebesar 12% pada tahun 2020 ini. Besaran ini tentu mengagetkan lantaran di tahun 2019, angka pertumbuhan smartphone terdapat pada posisi positif. Anda tentu bertanya-tanya apa penyebab penurunan drastis ini. Untuk menggali lebih pada, yuk bahas bersama tentang berbagai faktor yg berpengaruh pada krisis industri smartphone ini.
Berbagai Faktor Penghambat yang Disebabkan Covid-19
Dari survei pasar dan kabar yang sudah diambil dari para pengamat tech industri, faktor penghambat yang ditimbulkan Covid-19 terdapat poly. Efeknya faktor tadi tentu menarik dibahas. Berikut merupakan beberapa faktor yang telah dapat dideteksi dan mempunyai efek akbar:
Penurunan Permintaan
Masalah Covid-19 hambat perkembangan smartphone tentu jelas terlihat dari sudut permintaan. Masyarakat kini lebih mementingkan memegang cash dan mengeluarkan uang hanya buat keperluan yang essensial saja. Siapa yang mencari smartphone waktu barang keperluan sehari ? Hari jauh lebih krusial?
Lantaran permintaan dari warga menurun, tentu saja penjualan smartphone pula menurun. Hal ini membuat pemasukan menurut perusahaan smartphone menurun drastis. Apabila tidak mau merugi, perusahaan tersebut harus mengurangi produksi-nya.
Penjualan yg kecil tentu membuat motivasi buat menaikkan kualitas dan produksi sebagai mini . Apabila Covid-19 ini nantinya masih berkepanjangan masalahnya, ada kemungkinan perusahaan wajib memotong cost berdasarkan produksi. Hal misalnya pengurangan pekerja dan penutupan pabrik pula bisa terjadi lantaran hal ini.
Kepanikan soal smartphone di kalangan pembeli bahkan bisa semakin ekstrem. Hal seperti trend membersihkan smartphone dengan pembersih kuman sekarang makin banyak dilakukan. Jika orang – orang saja takut smartphone menjadi pembawa virus, tentu mereka tidak akan membeli baru lagi.
Kondisi Ekonomi yg Tidak Stabil
Masalah Virus Corona tentu sudah terlihat memukul aktivitas ekonomi secara besar . Kondisi ini tentu tidak kondusif buat keperluan jual beli barang ? Barang yang nir esensial. Di Indonesia sendiri, perkara ekonomi membuat banyak barang impor harganya jadi melonjak tinggi.
Nilai US Dollar ke Rupiah yg sebelumnya stabil di 14 ribu Rupiah melonjak tinggi hingga 16 ribu Rupiah pada tanggal 20 Maret 2020 lalu. Nilai tukar yang berubah drastis ini tentu akan berpengaruh pula dengan penjualan smartphone.
Harga barang impor yg ditentukan US Dollar akan sebagai makin tinggi. Saat daging impor dan smartphone impor sama ? Sama menjadi mahal, warga tentu tetap menentukan membeli daging. Smartphone bukanlah barang esensial, jadi pastinya tingkat pembelian dari barang ini akan menurun drastic di poly negara.
Kemampuan Porduksi yang Menurun
Saat Covid-19, keputusan karantina diturunkan oleh pemerintah. Hal ini pula dilakukan banyak negara dan nir hanya pada Indonesia saja. Kegiatan kerja-pun juga dipindah menurut kantor ke tempat tinggal . Banyak pabrik juga tutup buat memastikan para pekerjanya mendapatkan karantina paling nir selama 2 minggu.
Di pabrik – pabrik smartphone, hal ini dilakukan membuat kemampuan produksi menurun. Tidak ada pabrik ataupun lab R&D yang beroprasi membuat kemampuan pengadaan smartphone dan pengembangannya terhenti.
Bahan – bahan seperti chip dan produksi komponen smartphone juga berhenti. Jadi tidak ada yang bisa dijual selama proses karantina berjalan. Jika berkepanjangan, proses karantina ini bisa membuat lumpuh beberapa pabrik di negara yang sudah mengaplikasikan hal ini.
Nilai Saham Beberapa Produsen Besar Jatuh
Hal lain yang membuat nilai industri smartphone menurun adalah patokan saham. Sekarang ini kebanyakan saham nilainya menurun karena banyak investor lebih memilih memegang cash daripada memiliki saham tinggi. Nilai saham yang anjlok karena Covid-19 juga menstimulasi banyak orang menjual dan akhirnya membuat nilai saham kembali turun.
Para produsen smartphone besar seperti Samsung dan Apple sekarang ini sahamnya menurun dari segi nilai. Walaupun tidak terlalu besar, penurunan ini tentu membuat investasi yang didapat perusahaan juga turun. Pemasukan rendah membuat perusahaan juga tidak bergairah dalam hal operasi dan pengembangan teknologi baru smartphone.
Resource Untuk Research dan Development Menurun
Faktor Covid-19 hambat perkembangan smartphone yang selanjutnya adalah resource untuk melanjutkan pengembangan teknologi smartphone baru. Seperti yang Anda tahu, pengembangan teknologi menggunakan biaya banyak dan tentunya perlu waktu. Jika para staff peneliti sedang dikarantina dan kemampuan keuangan perusahaan menurun karena nilai saham tidak stabil dan juga pengurangan penjualan, tentu pengembangan juga terhambat. Karena itu teknologi penyempurnaan 5G dan smartphone model lipat pastinya juga akan berhenti.
Apa yang Dilakukan Para Produsen Besar Soal Masalah Hambatan Ini?
Walaupun industri smartphone sekarang sedang melemah akibat Covid-19, masyarakat tentu tidak perlu takut. Kondisi industri ini tidak akan mati seketika. Hanya saja jika masalah virus ini tidak segera teratasi, tidak hanya industri smartphone tapi banyak industri barang lain juga akan terkena masalah.
Untuk memastikan perusahaan tetap berjalan baik, hal seperti service dan juga menjual part tetap berjalan. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pengurangan penjualan bukan berarti smartphone berhenti terjual.
Di era sekarang ini smartphone memang sudah tidak tergantikan. Bahkan dalam kondisi bencana virus sekalipun, banyak orang tentu tetap tertarik dengan harga smartphone murah. Hanya saja, perusahaan tentu harus tetap memotong cost untuk mengindari kerugian yang besar.
Pemotongan ini biasanya dilakukan dengan mengurangi jumlah produksi, memotong staff yang diperkerjakan dan bahkan downsize untuk beberapa pengembangan yang dilakukan. Memberhentikan pengembangan project – project baru tentu bisa mengurangi biaya pengeluaran. Pengurangan ini nantinya dikonservasi untuk memastikan perusahaan tetap berjalan walau dikondisi wabah Covid-19 ini.
Semua perusahaan smartphone besar tentu punya reserve fund dan kebanyakan juga bercabang dalam melakukan bisnis. Jadi walau ada penurunan dalam performa penjualan smarphone selama Covid-19 melanda, mereka tidak akan langsung jatuh bangkrut.
Tapi sampai kapan hal ini bisa dipertahankan. Covid-19 sekarang ini menjatuhkan banyak korban dengan cepat. Masalah covid-19 hambat perkembangan smartphone tentu juga bisa semakin parah. Sekarang ini saja, Indonesia kelabakan mengurusi para korbannya. Jika yang sakit tambah parah dan rasa takut masyarakat meningkat, tidak heran jika pasar barang pada umumnya akan crash.
Banyak yang mengatakan bahwa Covid-19 akan berkurang efeknya di pertengahan 2020. Tapi apakah ini benar? Mari perhatikan saja perkembangan situasi ini dan bagaimana para perusahaan smartphone besar merespons perkembangan tersebut.


